Minggu, 03 Januari 2010

SEJARAH SEPEDA DI INDONESIA







Balap Sepeda sebetulnya sudah cukup lama dikenal di Indonesia, bahkan jauh sebelum Perang Dunia II sudah ada beberapa pembalap sepeda yang dibiayai oleh kaum pengusaha : seperti perusahaan Tropical, Triumph, Hima, Mansonia dan lain-lain. Mereka dapat dikategorikan sebagai pembalap sepeda profesional. Padahal waktu itu masih jaman penjajahan Belanda. Memang perkembangan olahraga Balap Sepeda cukup menguntungkan.

waktu itu, khususnya kota Semarang menjadi pusat kegiatan Balap Sepeda. Oleh arsitek Ooiman dan Van Leuwen didirikanlah sebuah velodrome. Velodromen dalam bahasa Belanda disebut Wielerband, atau “Pias” dalam bahasa Indonesia.
Pada jaman Jepang boleh dikatakan kegiatan Balap Sepeda terhenti. Baru ketika kemerdekaan diproklamasikan, para penggemar Balap Sepeda kembali mencoba mempopulerkan. Meski belum terorganisir dalam satu wadah, tetapi secara perseorangan kegiatan olahraga Balap Sepda nampak berkembang kembali. Sebagai contoh terbukti ketika PON II/1951 berlangusng di Jakarta, Balap Sepeda termasuk cabang olahraga yang diperlombakan.
Ikatan Sport Sepeda Indonesia atau disingkat ISSI baru didirikan tepat pada hari peringatan Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei 1956 di kota Semarang. Sebelum itu di tahun 1951, beberapa daerah sudah memiliki perkumpulan-perkumpulan Balap Sepeda, seperti : Yogyakarta, Solo, Surabaya, Semarang, Jakarta, Medan, Manado dan Bandung. Terbentuklah perkumpulan-perkumpulan Balap Sepeda, yaitu :
- ISSS : Ikatan Sport Sepeda Semarang
- PBSD : Persatuan Balap Sepeda Djakarta
- ISSJ : Ikatan Sport Sepeda Jogjakarta
- IPSS : Ikatan Pembalap Sepeda Solo
- PSBS : Perkumpulan Sepeda Balap Surabaya
- PBMS : Perkumpulan Balap Sepeda Medan dan Sekitarnya
- Super Jet : Perkumpulan Balap Sepeda dari Bandung
- PSBM : Perkumpulan Sepeda Balap Manado.
Jawa Tengah yang sejak semula memang menjadi pusat kegiatan olahraga Balap Sepeda di tanah air, terutama di kota Semarang dengan Ikatan Sport Sepeda Indonesia, merupakan sumber inspirasi kelahiran ISSI. Hal ini bertitik tolak atas keinginan untuk mempersatukan perkumpulan yang ada di seluruh Indonesia, agar pembinaan Balap Sepeda secara nasional dapat lebih mudah dilakukan. gerakan ini didahului dengna lahirnya ROSBADT, kependekan dari Rombongan Sepeda Balap Djawa Tengah. Impian dan harapan mereka menjadi kenyataan, ketika menjelang bulan Mei 1956 di kota Semarang terbentuklah Panitia Penyelenggara Kongres dan Kejuaraan Nasional yang pertama. Kegiatan ini mendapat dukungan pejabat, baik di kalangan sipil maupun militer, yang sanggup berperan serta dalam Kongres maupun Kejurnas ISSI.
Pada tanggal 20 Mei 1956, selama empat hari penuh diadakan sidang yang dihadiri oleh organisasi-organisasi Balap Sepeda dari Semarang, Jakarta, Solo, Surabaya, Bandung, Medan dan Manado yang menetapkan Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) merupakan organisasi pusat dari seluruh perkumpulan Balap Sepeda di Indonesia, yang berazaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta Amatirisme.
Tercatat dalam data, sebagai Ketua Umum PB. ISSI adalah sebagai berikut :
- S. Soeroso, Ketua Umum 1 dan pendiri PB. ISSI dari tahun 1956 – 1969.
Periode I – 1956 – 1958 – Letkol S Soeroso.
Periode II – 1958 – 1960 – Letkol S Soeroso.
Periode III – 1960 – 1963 – Letkol S Soeroso.
Periode IV – 1963 – 1967 – Letkol S Soeroso.
Periode V – 1967 – 1969 – Letkol S Soeroso.
Periode VI – 1969 – 1971 – Komodor (L) R. Soehardjo.
Periode VII – 1971 – 1973 – Brig Jend (Purn) Drs. Gatot Suwagio.
Periode VIII – 1973 – 1977 – Brig Jend (Purn) Drs. Gatot Suwagio.
Periode IX – 1978 – 1982 – Brig Jend (Purn) Drs. Gatot Suwagio.
Periode X – 1983 – 1987 – Harry Sapto.
Periode XI – 1987 – 1991 – Harry Sapto.
Periode XII – 1991 – 1996 – Harry Sapto.
Periode XIII – 1996 – 2003 – Harry Sapto.
Periode XIV – 2003 – 2007 – Harry Sapto.
Periode XV – 2008 – 2012 – Phanny Tanjung.


SUMBER : http://zonasepeda.com/artikel/sejarah-sepeda-indonesia.html

Calung

Calung yang hidup dan dikenal masyarakat sekarang merupakan prototipe dari angklung yang cara menabuhnya berbeda dengan angklung , cara menabuh calung yaitu dengan memukul-mukul batang ( wilahan ) dari ruas-ruas atau tabung bambu yang tersususn menurut titi laras ( tangga Nada ) penta tonik ( da mi na ti la da )

Ada dua bentuk calung Sunda yaitu calung rantay dan calung Jinjing waditra calung jinjing terbuat dari bahan bambu hitam ( awi hideung) dan seperangkat calung jinjing yang digunakan da;lam pertunjukan biasa bertangga nada Salendro ( bertangga nada Pelog ) serta Madenda ( nyorog ) wadrita calung jinjing merupakan perkembangan dari bentuk calung Rantai/ calung Gambang , calung dalam bentuk ini sudah merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan .

calung jinjing berasal dari bentuk dasar calung rantay ini telah dibuat dalam empat bagian bentuk wadrita yang terpisah , keempat buah wadrita terpisah ini memainkan dengan cara dijinjing oleh empat pemain dan masing-masing memegang calung dalam fungsi berbeda . Wadrita calung terdiri dari 1 Kingking, 2 Panepas, 3 jongong, 4 gonggong sedangkan calung kingking jumlahnya limabelas nada / oktaf dala nada yang paling kecil ( teringgi )

Calung Panepas jumlahnya lima potong untuk lima nada (1Oktaf) nadanya merupakan sambungan nada terendah calung kingking dan dari lima nada tersebut ada yang yang dibagi dua ada yang digorok ( disatukan jongjong seperti halnya panepas yang berbeda hanya nadanya yang lebih rendah dari panepas ) nada panepas bentuknya selalu tinggi dibagi dua yaitu 3 potong untuk nada berturut-turut dari yang tinggi , dua potong untuk dua nada lanjutan

Calung Gonggong merupakan calung yang paling besar jumlahnya hanya dua bumbung yang disatukan keduanya dalam nada rendah diantara keseluruhan calung . Jenis calung yang sekarang berkembang dan dikenal adalah calung jinjing .

Calung yang perkembangannya lebih mengarah pada kecalung dangdut ( caldut) lagu maupun musiknya ditambah drum, gitar, keybord dan memakai tata lampu untuk pertunjukannya. Di Kabupaten Bandung yang tercatat di Dinas Kebudayaahn dan Parawisata tersebar di Kecamatan maupun di desa-desa kurang lebih 40 group diantaranya Marahmay, Oces, Cinde agung, Sinar Pasundan, Mitra Siliwangi, Calawak Group, Mekar wangi, Gentra Priangan, Dangdiang, sariak layung dll.

http://matanews.com/wp-content/uploads/CalungSunda281009.jpg


sumber : http://www.bandungkab.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=308&Itemid=207

Mengenal Obyek Wisata Pesisir Jakarta Utara

http://www.kompas.comJAKARTA, KOMPAS.COM MUMPUNG masih hangat dan menjelang liburan akhir tahun, layak saya ingatkan pada warga Jakarta yang bingung hendak menghabiskan waktu libur ke mana. Ada 12 jalur wisata pesisir di Jakarta Utara yang bisa dipilih untuk dinikmati. Setidaknya dari hasil kunjungan itu, Anda bisa memberikan masukan pada pemerintah setempat akan apa yang masih kurang dan masih harus ditingkatkan/diadakan.

Adalah Bambang Sugiyono, walikota Jakarta Utara, yang nekat mengemas dan meluncurkan 12 jalur wisata pesisir. “Kalau nunggu kami siap, kapan siapnya. Jalan aja dulu, sambil kami kerjakan. Kalau sudah jalan kan semua pihak mau enggak mau tergerak untuk mendukung. Memang, kami juga harus merangkul, memperkenalkan, menjelaskan ke warga bahwa kalau program ini jalan, mereka juga yang akan menikmati hasilnya,” papar Bambang beberapa waktu lalu. Intinya, ia ingin meningkatkan perekonomian Jakarta Utara melalui potensi wisata, khususnya wisata pusaka (heritage tourism), yang selama ini tak tergarap.

Lantas mana saja 12 jalur wisata pesisir itu? Taman Suaka Margasatwa Muara Angke, di mana pengunjung bisa melihat vegetasi mangrove, biawak, ular dan kera.

Burung langka yang hanya ada di Pulau Jawa juga diselamatkan di sini. Tempat seluas 15,4 Ha ini ditetapkan sebagai Cagar Alam dengan Keputusan Gubernur Hindia Belanda No 24 tanggal 18 Juni 1939. Status Cagar Alam kemudian diubah menjadi Suaka Margasatwa berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No 755/Kpts-II/98 dengan luas 25,02 Ha.

Sentra Perikanan Muara Angke, kini beken sebagai tempat penjualan ikan segar dan ikan bakar. Di sini terdapat pusat kegiatan Pengolahan Hasil Perikanan Tradisional (PHPT) dan permukiman nelayan. Muara Angke ini punya sejarah panjang, setidaknya sejak abad 16. Nama Angke diambil dari Tubagus Angke, panglima perang Kerajaan Banten.

Kawasan Sunda Kelapa, ada empat lokasi yang bisa didatangi. Tentu saja Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai cikal bakal kota Jakarta. Lokasi ini sangat ramai diserbu di pagi hari atau di sore hari karena kapal kayu yang berjejer di sana dipadu langit cerah menjadi latarbelakang yang indah untuk berfoto. Tak jauh dari sini, ada Museum Bahari yang di abad 17 merupakan gudang rempah. Kini gudang itu berisi koleksi kebaharian dan kenelayanan. Selain itu, tembok bagian depan museum ini tak lain adalah bagian dari tembok Kota Batavia sisi barat yang masih tersisa.

Sebelum masuk ke Museum Bahari, ada menara miring yang sejatinya adalah Menara Syahbandar, yaitu menara pemantau kapal yang keluar masuk Kota Batavia. Menara ini dibangun di abad 19, tepatnya 1839. Di seberang menara ini berdiri megah bekas galangan kapal VOC yang usianya jauh lebih tua dari Menara Syahbandar. Bangunan bekas galangan kapal itu dibangun tahun 1628 dan kini menjadi gedung Galangan VOC. Tempat ini pernah menjadi kafe dan restoran, namun karena akses ke lokasi ini yang tak kunjung dibenahi maka gedung ini kini lebih banyak hidup dari penyewaan tempat untuk pernikahan, pesta, kursus bahasa Mandarin dan kursus alat musik tradisional Tionghoa.

Dari Museum Bahari, masuk lebih ke dalam di antara perkampungan kumuh, ada kampung tua bersejarah, Kampung Luar Batang. Kampung ini didirikan oleh mujahid Islam yang hijrah dari Hadhramaut, Yaman Selatan, pada sekitar tahun 1716-1756. Ia meninggalkan masjid dan makam yang dianggap keramat. Di masa VOC tempat ini adalah lokasi pemeriksaan barang sebelum masuk ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

Tujuan lainnya adalah Stasiun Tanjungpriuk yang dibangun pada 1914. Di sini ditemukan bunker yang diperkirakan menghubungkan antara stasiun dan pelabuhan Tanjungpriuk. Dari stasiun, ada kampung tua lainnya, Kampung Tugu. Di kampung inilah Keroncong Tugu berawal. Warga di sana punya nama unik, nama-nama Portugis. Pasalnya, kampung itu di abad 17 menjadi tempat budak dan tawanan VOC yang dimerdekakan, dan rata-rata mereka berkebangsaan Portugis.

Kampung Marunda, tak jauh dari Kampung Tugu, ada rumah panggung yang dipercaya sebagai rumah orang kaya Marunda yang dirampok Pitung, ada pula yang percaya di rumah itu Pitung pernah tinggal. Tak jauh dari rumah itu ada Masjid Al Alam yang didirikan Fatahillah setelah mengalahkan Portugis di Sunda Kelapa. Lelah menikmati kekayaan pusaka Jakarta Utara, ada tempat makan dan belanja di Kelapa Gading dan Mangga Dua. Taman Impian Jaya Acnol dan Bahtera Jaya Ancol juga merupakan bagian dari 12 wisata pesisir. Wisata religius dalam 12 wisata pesisir dipusatkan di Jakarta Islamic Centre, yang berdiri di atas lahan bekas lokalisasi Kramat Tunggak. WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

(Sumber KOMPAS.COM, 1 Desember 2009)

AKSARA SUNDA

Sejarah Awal

Setidaknya sejak Abad IV masyarakat Sunda telah lama mengenal aksara untuk menuliskan bahasa yang mereka gunakan. Namun demikian pada awal masa kolonial, masyarakat Sunda dipaksa oleh penguasa dan keadaan untuk meninggalkan penggunaan Aksara Sunda Kuna yang merupakan salah satu identitas budaya Sunda. Keadaan yang berlangsung hingga masa kemerdekaan ini menyebabkan punahnya Aksara Sunda Kuna dalam tradisi tulis masyarakat Sunda.

Pada akhir Abad XIX sampai pertengahan Abad XX, para peneliti berkebangsaan asing (misalnya K. F. Holle dan C. M. Pleyte) dan bumiputra (misalnya Atja dan E. S. Ekadjati) mulai meneliti keberadaan prasasti-prasasti dan naskah-naskah tua yang menggunakan Aksara Sunda Kuna. Berdasarkan atas penelitian-penelitian sebelumnya, pada akhir Abad XX mulai timbul kesadaran akan adanya sebuah Aksara Sunda yang merupakan identitas khas masyarakat Sunda. Oleh karena itu Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Barat menetapkan Perda No. 6 tahun 1996 tentang Pelestarian, Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Sunda yang kelak digantikan oleh Perda No. 5 tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah.

Pada tanggal 21 Oktober 1997 diadakan Lokakarya Aksara Sunda di Kampus UNPAD Jatinangor yang diselenggarakan atas kerja sama Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat dengan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Kemudian hasil rumusan lokakarya tersebut dikaji oleh Tim Pengkajian Aksara Sunda. Dan akhirnya pada tanggal 16 Juni 1999 keluar Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 343/SK.614-Dis.PK/99 yang menetapkan bahwa hasil lokakarya serta pengkajian tim tersebut diputuskan sebagai Aksara Sunda Baku.

Saat ini Aksara Sunda Baku mulai diperkenalkan di kepada umum antara lain melalui beberapa acara kebudayaan daerah yang diadakan di Bandung. Selain itu, Aksara Sunda Baku juga digunakan pada papan nama Museum Sri Baduga, Kampus Yayasan Atikan Sunda dan Kantor Dinas Pariwisata Daerah Kota Bandung. Langkah lain juga diambil oleh Pemerintah Daerah Kota Tasikmalaya yang menggunakan Aksara Sunda Baku pada papan nama jalan-jalan utama di kota tersebut.

Namun demikian, setidaknya hingga akhir tahun 2007 Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Jawa Barat belum juga mewajibkan para siswa untuk mempelajari Aksara Sunda Baku sebagaimana para siswa tersebut diwajibkan untuk mempelajari Bahasa Sunda. Langkah memperkenalkan aksara daerah mungkin akan dapat lebih mencapai sasaran jika Aksara Sunda Baku dipelajari bersamaan dengan Bahasa Sunda. Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Lampung dan Propinsi Jawa Tengah telah jauh-jauh hari menyadari hal ini dengan mewajibkan para siswa Sekolah Dasar yang mempelajari bahasa daerah untuk juga mempelajari aksara daerah.

Sunda Baku dan Sunda Kuna

Sebagaimana diungkapkan di atas, Aksara Sunda Baku merupakan hasil penyesuaian Aksara Sunda Kuna yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Sunda kontemporer. Penyesuaian itu antara lain didasarkan atas pedoman sebagai berikut : bentuknya mengacu pada Aksara Sunda Kuna sehingga keasliannya dapat terjaga, bentuknya sederhana agar mudah dituliskan, sistem penulisannya berdasarkan pemisahan kata demi kata, dan ejaannya mengacu pada Bahasa Sunda mutakhir agar mudah dibaca. Dalam pelaksanaannya, penyesuaian tersebut meliputi penambahan huruf (misalnya huruf va dan fa), pengurangan huruf (misalnya huruf re pepet dan le pepet), dan perubahan bentuk huruf (misalnya huruf na dan ma).

Saat ini, aksara sunda bahkan bisa kita manfaatkan konversi dari latin ke aksara sunda, contohnya di website yang dibuat oleh Dian Tresna Nugraha ini. Klik http://sabilulungan.org/aksara/ untuk menuju TKP. O iya jangan lupa untuk menginstal font Sundanese Unicode agar bisa mengenali aksara sundanya.

Sumber: http://id.wikipedia.org dan http://sabilulungan.org/aksara/

Cimahi, Kota Wisata Sejarah Militer

Warta Kota/PradaningrumKOMPAS.COMCimahi, sebuah kota administratif dengan luas sekitar 4.000 hektar di wilayah Kabupaten Bandung Utara, seringkali terlupakan dalam sejarah. Sejarah kota ini tak banyak tercatat, padahal kota ini punya sejarah penting bukan hanya karena Cimahi dilalui jalur "Daendels" Anyer-Panarukan tapi juga bagi dunia militer di masa kolonial.

Pramoedya Ananta Toer menggambarkan kenangan atas kota-kota, khususnya kota di tanah Priangan, yang dilalui Jalan Raya Pos begini, "Barang tiga kilometer ke tenggara, Jalan Raya Pos sampai ke Cimahi. Sebelum 1913, tempat ini bernama Cikolokot (tapi di catatan sejarah lain tertulis Cilokotot –Red).

Perubahan nama terjadi setelah semasa pemerintahan Gubernur Jenderal van Heutsz, Bandung ditunjuk jadi tempat pemusatan tentara Hindia Belanda dan di Cikolokot dibangun tangsi besar KNIL dengan RS militer yang juga besar. Sejak itu Cimahi jadi kota militer. Tak ada suatu kenangan padaku tentang Cimahi tapi sedikit tentang Padalarang."

Demikian sedikit kenangan Pramoedya atas Cimahi. Catatan sejarah lainnya tertulis dalam situs resmi kota itu. Cimahi mulai dikenal pada tahun 1811 ketika Gubernur Jendral Herman Willem Daendels membuat jalan Anyer - Panarukan. Tuan Besar Guntur (Daendels) kemudian membuat pos penjagaan (loji) di lokasi yang kini menjadi Alun-alun Cimahi.

Antara tahun 1874 - 1893, Belanda membangun jalur kereta api Bandung-Cianjur dan bersamaan dengan itu Stasiun Cimahi pun ikut berdiri. Stasiun ini masih ada di sana. Selain membangun jalan kereta api itu, pada 1886, pusat pendidikan militer bersama fasilitas lain seperti rumah sakit, rumah tahanan militer juga disiapkan.

Rumah Sakit Dustira, dari tahun 1887, kini masih berdiri gagah, demikian pula rumah tahanan militer Poncol yang di dinding bagian atas pintu masuk tertulis angka 1886. Kini dengan tambahan 'kawasan terlarang". Saat saya, di bawah rintik hujan akhir pekan lalu, meminta izin mengambil gambar bagian muka, izin tak diberikan, "Harus ada izin dari pusat (Jakarta). Kita sudah sering kedatangan orang Belanda minta izin untuk ambil gambar, tetap enggak bisa," tandas soldadu yang menjaga rumah tahanan itu.

Sayang sekali. Kejadian seperti itu tak hanya terjadi di Cimahi. Di semua daerah di mana bangunan bersejarah dikuasai militer, maka warga tersendat mendapatkan sejarah dan keberadaan kota mereka sendiri. Segala aturan, tata cara, prosedur birokrasi nan panjang harus dilalui hanya untuk mengambil gambar sebuah gedung bersejarah yang bukan hanya milik militer tapi milik seluruh kota, bahkan bangsa ini.

Di saat kota-kota bersejarah, kota-kota di Indonesia sadar akan kekayaan pusaka (heritage) mereka, kesulitan bahkan hambatan akan datang dari urusan kepemilikan bangunan. Alhasil, pemeliharaan termasuk pemugaran bangunan yang potensial jadi atraksi wisata sejarah kota terkait, sulit dipantau. Lihat saja bekas tembok kota Batavia sisi Timur beserta gudang rempah di sana. Perhatikan, dari waktu ke waktu semua terkikis makin habis tak berbekas.

Kembali ke Cimahi, menjelajah kota ini mata saya bagaikan enggan berkedip karena hampir di tiap sudut, bangunan tua, bangunan bersejarah berserakan. Termasuk Gereja St Ignatius, kerkhof (pemakaman) Leuwigajah di sini terbentang pula kuburan Belanda - Ereveld Leuwigajah).

Intinya, sebagai kota militer, Cimahi berpotensi besar menjual kemiliteran kota ini. Hanya saja, tentu, sebagai kota wisata, harus ada kompromi pada urusan keramahtamahan, hospitality dari seluruh pihak di Cimahi. WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

(Sumber KOMPAS.COM, 30 Desember 2009)